Opa Tjipto, 38 Tahun Bermain Bayang-Bayang Orang

Jakarta |
Menapaki Jalan Pintu Besar Utara di Kota Tua yang telah telah beralih fungsi sebagai plaza memang terasa beda.
Bagaikan berjalan di lorong masa lalu, menyatu dengan Taman Fatahillah yang berlantai lempengan batu.
Di depan gedung tua Historia di bawah pohon peneduh, terlihat seorang kakek bertopi pet ala Tino Sidin sedang duduk di atas batu. Dia tampak asyik mengerjakan sesuatu, sambil menatap tamunya yang duduk menyamping.
Selembar kertas linen warna hitam di tangan kiri, gunting di tangan kanan, dimainkannya tak sampai 7 menit. Jadilah sebentuk bayangan wajah tamunya itu dari samping.
Sementara orang orang yang sedang mengerumuninya ada yang mengangguk-angguk, ada yang tersenyum kagum.
“Mirip,” ucap seorang di antaranya yang kenal dekat dengan orang yang dibuat profilnya dengan guntingan kertas hitam tadi.
Itulah proses terciptanya karya seni siluet atau bayang bayang wajah dan kepala orang, siapapun yang memesan kepada kakek itu.
“Nama saya Basuki Sutjipto, sering orang memanggil saya Opa Cipto,” tuturnya ketika ditemui di tempat kerjanya sore hari akhir Januari 2018.
Di sampingnya ada poster vertikal berisi beberapa siluet, laki laki maupun perempuan. Di bagian atas poster itu ada tulisan ‘Siluet Art Galery, Lorong Rupa Kota Tua Jakarta.
Opa Tjipto mengaku mulai buka lapak di Kota Tua sejak tahun 2012. Sebelumnya pernah mangkal di Padepokan Pencak Silat TMII di Jakarta Timur hanya bertahan setahun lebih. Karena sepi pesanan, ia pun pindah ke Taman Margasatwa Ragunan.
Di sinipun hasilnya kurang memuaskan hingga akhirnya hijrah ke Kota Tua. “Pertama kali saya membuat siluet wajah seperti ini di Pasar Seni Ancol dari tahun 1979 hingga 1985,” ungkapnya.
Usia Basuki Sutjipto sekarang sudah 76 tahun. “Anak lima, cucu tujuh,” kata Opa Tjipto lagi. Tetapi untuk berkarya seni, ia tak mau berhenti.
“Sehari bisa dapat berapa, Opa?” tanya wartawan. Jawabannya dapat ditebak. Tak tentu, tergantung rezeki dia hari itu.
Namun Opa Tjipto bercerita pernah dia dipesan orang yang memiliki hajat di Hotel Kempinski di Jl MH Thamrin membuat siluet 200 orang tamunya. “Seharian itu dapat Rp 8 juta,” tuturnya dengan wajah sumringah.
Di Kota Tua pada Lebaran Idul Fitri tahun 2017 yang lalu hasilnya juga lumayan. “Dalam 10 hari dapat Rp 1 juta,” katanya. Jumlah itu sebagai upah membuat siluet 70 wajah.
Tak Dibayar
Suka duka juga dialami Opa Cipto, pernah suatu ketika seharian nihil pemesan tiba-tiba ada wisatawan mancanegara memesan siluet wajahnya.
Namun setelah pesanan jadi ia tak mau bayar, dengan alasannya tidak mirip. “Padahal saya pastikan kepada orang yang menyaksikan di situ sudah mirip sekali,” kenang Opa Cipto yang terkadang ditemani Oma Elfintje Urantuge, isteri tercintanya.
“Isteri saya dari Minahasa. Dia senang fotografi dan sekarang lagi dapat pesanan memotret,” kata Basuki Sutjipto.
Kalau lagi tak ada order Sang Oma biasanya setia membantu Sang Opa menempelkan hasil guntingan siluet di atas kertas putih ukuran A3 atau A4.
Tarip membuat siluet (ejaan aslinya silhouete atau potongan bayangan) relatif murah. Untuk ukuran A4 (22 x 30 cm) hanya Rp 25 ribu. Sedang ukuran A3 (30 x 42 cm) Rp 35 ribu per wajah.
Alumnus SMA Negeri 8 Jakarta Selatan dan Sekolah Rakyat (SR) Purworejo ini mengaku kepandaian membuat siluet tanpa sketsa dan langsung digunting itu didapat secara autodidak.
Opa Tjipto tak menampik faktor guru dan turunan bakat dari ayahnya juga berperan. “Bapak saya juga pandai menggambar. Kalau menggambar dua tokoh wayang yang sedang berhadapan beliau mampu menggunakan kedua tangan kanan dan kiri sekaligus,” ungkapnya.
Dari keseluruhan anak-anak, lanjut Opa Tjipto, hanya si bungsu memiliki bakat seperti itu. “Sekarang dia bekerja di media online di Manado,” katanya.
Diakui Opa Tjipto, tokoh atau publik figur yang pernah dibuatkan siluetnya tidak banyak diingat. Namun ada 2 orang tokoh yang masih terbesit dalam benaknya.
Dua orang tersebut adalah Dahlan Iskan mantan Menteri BUMN yang pernah mendorong digalakkannya mobil tenaga listrik, dan Djarot Saiful Hidayat mantan Walikota Blitar yang terakhir menjabat Gubernur DKI Jakarta.
Menurut Opa Tjipto, siluet Djarot Saiful Hidayat digambarnya sewatu masih menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta. “Waktu itu Pak Djarot masih Wakil Gubernur DKI Jakarta,” pungkasnya.
Berita: Pri | Foto: Istimewa/Pri
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.