BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem, Banjir Bali Terparah dalam Satu Dekade
Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan ke depan.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan dinamika atmosfer yang kompleks saat ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
“Potensi hujan lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang perlu diwaspadai masyarakat dan pemerintah daerah. Kondisi ini dapat memicu banjir, longsor, hingga gelombang tinggi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (12/9).
Menurut BMKG, fenomena atmosfer yang memicu cuaca ekstrem antara lain Dipole Mode Index (DMI) negatif −1,27, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) bernilai negatif, serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, Rossby ekuator, dan gelombang atmosfer frekuensi rendah.
Selain itu, bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia barat Bengkulu dan pola siklonik di Kalimantan Utara juga memperbesar peluang hujan.
Prakiraan Cuaca Ekstrem
Pada 12-14 September, hujan lebat berpotensi terjadi di Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Angin kencang diperkirakan melanda Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Maluku.
Sedangkan pada 15-18 September, hujan lebat diprediksi terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Potensi angin kencang tetap mengintai Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan Maluku.
Bali Dilanda Banjir Besar
Banjir dan longsor yang melanda Bali pada 9-10 September 2025 menjadi yang terparah dalam satu dekade terakhir. Data BNPB mencatat bencana terjadi di tujuh kabupaten/kota dengan 120 titik banjir.
Denpasar menjadi wilayah terdampak terbanyak dengan 81 titik, disusul Gianyar 14 titik, Badung 12 titik, Tabanan 8 titik, serta Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik.
Curah hujan ekstrem tercatat sebagai pemicu utama. Di Jembrana, hujan harian mencapai 385,5 mm, disusul Tampak Siring 373,8 mm, Karangasem 316,6 mm, Klungkung 296 mm, dan Abiansemal 284,6 mm.
Beberapa wilayah lain, seperti Denpasar Barat, Petang, Kerambitan, dan Padangbai, juga mencatat curah hujan di atas 200 mm per hari. Padahal, secara klimatologis, hujan di atas 150 mm/hari sudah dikategorikan ekstrem.
Dwikorita menjelaskan intensitas hujan tersebut dipicu kombinasi faktor regional dan lokal, mulai dari aktivitas MJO, gelombang Kelvin, Rossby ekuator, hingga kondisi atmosfer labil di Bali.
Selain faktor atmosfer, BMKG menilai buruknya sistem drainase, sedimentasi, sampah, serta alih fungsi lahan turut memperparah dampak banjir.
Pentingnya Peringatan Dini
BMKG menyatakan telah mengeluarkan peringatan sejak 5 September melalui prospek cuaca sepekan, peringatan dini tiga harian, hingga pembaruan nowcasting per jam saat hujan ekstrem berlangsung. Pada 9-10 September saja, terdapat 11 kali pembaruan peringatan dini cuaca ekstrem khusus untuk wilayah Bali.
Dwikorita mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan rutin memantau informasi resmi BMKG melalui aplikasi, media sosial, maupun siaran televisi. Ia juga mendorong langkah mitigasi, seperti menjaga kebersihan drainase dan tidak membuang sampah sembarangan.
“Dengan kesiapsiagaan dan mitigasi yang baik, risiko bencana akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan,” tegasnya.
Discover more from RestorasiNews.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
