Burisrowo, Band Metal Asal Kota Depok yang Pernah Guncang Musik Underground Tanah Air
Jakarta – Band Burisrowo lahir dari semangat empat anak muda Kota Depok, Jawa Barat, yang gemar memainkan lagu-lagu metal legendaris dunia.
Pada tahun 1995, Fay Sonix (gitar), Faried Feardaouz (drum), Heri Wanted (vokal), dan Edho (bass) membentuk band bernama Ulat Bulu, yang kala itu rutin membawakan lagu-lagu milik Metallica seperti The Four Horsemen, Seek and Destroy, Creeping Death, hingga For Whom the Bell Tolls.
Setahun berselang, tepatnya pada 1996, formasi band mengalami perubahan dengan bergabungnya Adi “Themit” Restiadi pada posisi gitar.
Ia pula yang menggagas pergantian nama menjadi Burisrowo, serta mengarahkan band tersebut pada genre Brutal Death Metal, yang sedari awal menganut aliran Thrash Metal.
Nama Burisrowo diambil dari salah satu tokoh antagonis dalam kisah pewayangan Kurawa, simbol kekuatan dan sisi gelap manusia.
Pada penampilan perdana di tahun yang sama, posisi bass diisi oleh Jeff. Namun tak lama kemudian, formasi band kembali mengalami perubahan.
Adi Themit hengkang kemudian digantikan Emil Nirwan, sementara Jeff juga keluar untuk bergabung dengan band Troops of Brutality (TOB), sehingga posisi bass kembali dipegang oleh Edho.
Eksistensi di Dunia Metal Bawah Tanah
Meski sempat mengalami bongkar pasang personel, eksistensi Burisrowo di panggung metal bawah tanah Indonesia tetap mencuri perhatian.
Awalnya memainkan lagu-lagu dari band metal asal Amerika Serikat, mereka kemudian memperluas pengaruh musikalnya ke gaya metal Inggris seperti Benediction dan Edge of Sanity dari Swedia, bahkan berani meng-cover karya band metal asal Kolombia, Masacre (Reqviem), dan band negara Swiss, Messiah.
Kualitas musikal dan keberanian membawakan lagu-lagu yang saat itu terbilang rumit membuat Burisrowo cukup disegani para metalheads di kawasan Jabodetabek.

Band asal Depok Timur ini sering diundang tampil di berbagai acara live metal ternama, termasuk Poster Café dan pangung musik Taman Impian Jaya Ancol Jakarta.
Sayangnya, perjalanan Burisrowo tidak berlangsung lama. Pada tahun 1998, band ini dinyatakan vakum tanpa sempat merilis single, EP, atau album penuh.
Meski demikian, namanya tetap diingat oleh para penggemar musik metal era 90-an sebagai salah satu pelopor metal ekstrem di Depok.
Walau singkat, perjalanan Burisrowo meninggalkan jejak berharga dalam sejarah musik ekstrem Indonesia. Spirit dan dedikasi mereka menjadi inspirasi bagi generasi metal selanjutnya untuk terus berkarya tanpa batas.
Upaya Reuni dan Harapan Baru
Pada tahun 2010, muncul gagasan untuk menghidupkan kembali Burisrowo oleh beberapa personel orisinalnya. Namun rencana itu tertunda karena masing-masing anggota aktif di band lain.
Fay Sonix dan Faried, misalnya, bergabung dengan band Demoniac dan sempat merilis single “Dead Welfare State” serta menggarap lagu “Odious Debt”, yang sebelumnya diinisiasi oleh band Planeterror pada 2007.
Sedangkan Jeff hingga saat ini terus konsisten berkarier di musik underground, dan menjadi gitaris pada band metal hardcore legendaris Papper Gangster.
Kini, harapan untuk melihat Burisrowo bangkit kembali masih terbuka. Banyak pihak berharap “Burisrowo on the second life” akan tampil lebih energik, modern, dan fokus menciptakan karya rekaman orisinal seperti band-band metal profesional lainnya.

Profil Personel Burisrowo
Fay Sonix gitaris shredder yang pernah tergabung di Demoniac, Blood Sheed, For Infidel, Rudal Anti Tank (RAT), dan Planeterror. Gear: Ibanez, Jackson, Samick, Prince, Fender Stratocaster, Gibson Les Paul, Schecter, Marshall, Mesa Boogie, BOSS, DOD, Line 6 POD, dan lainnya.
Faried Feardaouz, drummer yang pernah tergabung di Demoniac, Blood Sheed, For Infidel, dan Planeterror. Saat duduk di bangku sekolah, Faried beberapa kali menyabet gelar drummer terbaik. Gear: Rolling, Tama, Sonor, Iron Cobra, dan lainnya.
Jeff seorang multi-Instrumentalis alias musisi serba bisa yang pernah menjadi vokalis Horror, bassist Burisrowo, drummer Troops of Brutality (TOB), dan gitaris Papper Gangster. Gear: Ibanez, Epiphone Les Paul, Marshall, BOSS, DOD, Line 6 POD, dan lainnya.
Adi “Themit” Restiadi, seorang gitaris yang kini lebih fokus sebagai seniman musik biola dan menetap di Yogyakarta. Sedangkan Emil Nirwan yang menggantikan Adi, setelah keluar dari dunia musik, Emil kini menekuni profesi sebagai desainer aksesori otomotif.
Terakhir Heri Wanted (Vokalis) dan Edho (Bassist). Keduanya telah lama vakum dari dunia musik. Heri kini menjadi pelatih bela diri dan menekuni bidang pengamanan profesional, sementara Edho aktif di bidang bisnis ekspedisi dan manajemen seni budaya. (Red/Mh/Foto: Dok./Istimewa)
Discover more from RestorasiNews.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
