Opini

HPN 2026: Menjaga Api, Menyalakan Arah

Oleh Muchamad Fadli Setiawan, S.H.*

Setiap 9 Februari, pers Indonesia kembali bercermin. Bukan untuk merayakan diri secara berlebihan, melainkan untuk bertanya jujur: masihkah pers berdiri tegak sebagai penuntun bangsa, atau justru terseret arus zaman tanpa kompas nilai?

Hari Pers Nasional (HPN) bukan sekadar penanda historis lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1985. HPN adalah momentum moral saat pers diuji, diuji kembali, dan ditantang untuk terus relevan di tengah derasnya perubahan.

Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers telah menegaskan kedudukan pers sebagai lembaga sosial sekaligus wahana komunikasi massa. Mandatnya jelas: menjalankan kerja jurnalistik secara profesional, independen, dan bertanggung jawab. Namun di era 2025–2026, mandat itu menghadapi ujian yang jauh lebih kompleks dibanding masa lalu.

Hari ini, pers tidak lagi hanya berhadapan dengan kekuasaan. Pers berhadapan dengan kecepatan algoritma, banjir informasi, disinformasi, polarisasi publik, dan tekanan ekonomi media yang kian nyata.

Media sosial mampu menyebarkan kabar dalam hitungan detik, tetapi kerap kehilangan verifikasi. Influencer bisa membentuk opini publik, namun dirasa belum memenuhi standar etik jurnalistik. Di titik inilah pers diuji: apakah memilih jalan cepat yang bising, atau tetap menempuh jalan sunyi bernama kebenaran.

Justru di tengah kebisingan itulah, pers sejatinya harus hadir lebih tenang, lebih dalam, dan lebih bermakna.

Sejarah pers Indonesia bukan sejarah yang nyaman. Ia lahir dari keberanian dan perlawanan.

Sejak Kort Bericht Eropa terbit di Batavia pada 1676, hingga lahirnya Medan Prijaji tahun 1903 di tangan R.M. Tirto Adhi Soerjo, pers telah menjadi alat kesadaran. Tirto tidak mendirikan surat kabar untuk sekadar memberitakan peristiwa, tetapi untuk membangunkan nurani bangsa yang terjajah.

Jejak itu diteruskan oleh tokoh-tokoh pergerakan: Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Parada Harahap, hingga Soekarno. Mereka memahami satu hal penting: pers bukan pelengkap sejarah, melainkan penggerak sejarah.

Dari sinilah kita belajar, bahwa pers yang besar bukan lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian memihak kepentingan publik.

Pilar Keempat yang Tidak Boleh Retak

Dalam demokrasi, pers disebut pilar keempat, bukan simbol, melainkan tanggung jawab. Ia berdiri sejajar dengan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, namun berbeda dalam satu hal penting: legitimasi pers berasal dari kepercayaan publik.

Pers harus menjadi watchdog, bukan lapdog. Mengawasi kekuasaan tanpa rasa takut, namun juga tanpa kebencian. Mengkritik dengan data, bukan dengan emosi. Mengungkap fakta tanpa menghakimi.

Sebagaimana ditegaskan oleh para pemikir jurnalistik modern, pers yang kuat adalah pers yang bebas sekaligus bertanggung jawab. Kebebasan tanpa etika adalah kekacauan. Etika tanpa keberanian adalah kepatuhan semu.

Tahun-tahun belakangan ini adalah masa krusial bagi pers Indonesia. Tantangannya nyata, yakni menjaga independensi di tengah tekanan politik dan ekonomi, bertahan secara bisnis tanpa mengorbankan integritas, dan mendidik publik di tengah rendahnya literasi media.

Menghadapi disinformasi tanpa terjebak menjadi bagian darinya.

Namun tantangan ini sekaligus peluang. Pers Indonesia harus naik kelas bukan hanya cepat, tetapi cermat; bukan hanya viral, tetapi bernilai; bukan hanya ramai, tetapi berdampak.

Pers harus kembali menjadi ruang nalar publik, tempat kebenaran diuji, bukan dikompromikan.

Hari Pers Nasional bukan tentang nostalgia. Ia tentang arah. Pers Indonesia ke depan harus lebih berani menjaga jarak dengan kekuasaan, lebih setia pada kepentingan publik, lebih disiplin pada kode etik, dan lebih adaptif pada teknologi tanpa kehilangan nurani.

Karena pada akhirnya, pers tidak diukur dari seberapa sering ia dikutip, tetapi dari seberapa dalam ia dipercaya.

Selamat Hari Pers Nasional! Teruslah menyala, namun lebih penting: tetap menuntun arah.

*Penulis adalah Pemimpin Umum (PU) Media Restorasi News


Discover more from RestorasiNews.com

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from RestorasiNews.com

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading