Udayana Warmadewa, Cahaya dari Timur
Oleh Ngurah Sigit*
Siapakah Raja Udayana Warmadewa?
Ia bukan sekadar nama yang tergurat di lembar prasasti tua, bukan hanya suara samar dari lorong-lorong sejarah yang berdebu. Ia adalah jiwa purba yang mengalir pelan dalam nadi peradaban Nusantara. Sosok yang hadir tanpa gegap gempita, tapi jejaknya melampaui zaman mengalun hening dalam nyanyian hutan Bali, bergema lirih di sela batu candi dan gemuruh ombak selatan.
Udayana bukan raja yang mendaki takhta demi gengsi dan kuasa. Ia tidak memerintah dengan tombak dan ancaman. Ia memimpin dengan hati, dengan rasa (roso) yang menjelma dalam keputusan yang adil, dalam pembangunan yang merata, dalam persatuan yang menyatukan, bukan menaklukkan.
Sebelum dunia mengenal Bali sebagai surga bagi peziarah matahari, Bali telah lebih dulu menjadi surga bagi jiwa. Di pulau yang diperciki embun para dewa, di antara kabut pegunungan dan semerbak dupa kuil, hidup seorang raja dari dinasti Warmadewa yang membawa terang dari dalam, bukan dari kilau mahkota.
Raja yang Menganyam Dua Pulau
Udayana bukan hanya raja bagi pulau ‘berjulukan Seribu Pura’. Ia adalah jembatan halus antara Jawa dan Bali, penyatu dua dunia, dua peradaban, dua langit budaya yang berbeda, namun tak pernah bertabrakan.
Pernikahannya dengan Ratu Mahendradatta dari tanah Jawa bukan sekadar kisah cinta bangsawan melainkan manuver bijaksana yang penuh visi.
Dari rahim cinta itu, lahirlah pemimpin-pemimpin besar, yakni Airlangga sang raja agung yang mengukir kejayaan di tanah Jawa. Marakata yang meneruskan tradisi kebijaksanaan di tanah Bali, dan Anak Wungsu yang meninggalkan warisan budaya luhur bagi generasi mendatang.
Ia bukan hanya ayah biologis, tetapi juga bapak spiritual sebuah bangsa. Darahnya mengalir dalam raja-raja besar, namun jiwanya menetap di hati rakyat kecil.
Jejak Zaman Emas
Zaman Udayana adalah zaman yang tenang, tapi penuh makna. Prasasti-prasasti yang ditemukan tak banyak bicara soal perang, tapi lebih banyak bercerita tentang air yang dialirkan, sawah yang dibuka, jalan yang dibentangkan, serta hukum yang ditegakkan dengan kelembutan.
Ia bukan raja yang membakar musuh, tapi pemimpin yang menyalakan pelita kesadaran. Bukan pencari kemegahan, tapi perawat harmoni dan tatanan.
Udayana adalah ingatan kolektif kita, bahwa kejayaan tidak dibangun di atas kerakusan, melainkan pada pilar kerendahan hati dan kearifan lokal. Bahwa tanah yang subur bukan hanya menghasilkan padi, tetapi juga tumbuhkan pemimpin besar yang berpijak di bumi, dan menatap langit dengan penuh penghayatan.
Untuk Masa Kini dan Nanti
Dalam riuh rendah zaman yang terus berubah, dalam hiruk pikuk kekuasaan yang kerap melupakan makna, nama Udayana datang seperti bisikan suci dari masa silam.
Ia mengingatkan kita:
Bahwa kekuasaan tanpa rasa, adalah bara yang membakar.
Bahwa ilmu tanpa akar, akan tercerabut dan hancur.
Bahwa pemimpin sejati, adalah ia yang membangun taman, bukan benteng.
Yang menyatukan dalam damai, bukan mengoyak dalam ambisi.
Wahai pewaris tanah surga, di manapun engkau berpijak, ingatlah pemimpin besar tidak selalu mereka yang menang perang, tetapi mereka yang mampu menenangkan zaman.
Dan dari masa ke masa, Udayana akan tetap hidup dalam langkah-langkah bijak anak negeri, dalam impian tentang peradaban yang luhur, dan dalam cinta pada tanah yang diwariskan para leluhur.
*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.
Discover more from RestorasiNews.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
