Sosok

Ketum KONI Pusat Besuk Ellyas Pical di Kediaman

Jakarta – Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat (KONI Pusat), Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, membesuk petinju legendaris Indonesia Ellyas Pical di kediamannya di Kunciran, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (3/3).

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan moril dan memastikan kondisi kesehatan mantan juara dunia itu.

“Kami membesuk Pak Elly ke sini berharap kondisinya membaik,” ujar Marciano. Ia juga memohon doa seluruh rakyat Indonesia agar sosok yang dijuluki “The Exocet” itu segera pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sediakala.

Diketahui, pada tahun lalu Ellyas Pical sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Kita akibat gangguan jantung.

Dalam kesempatan tersebut, Ketum KONI Pusat memastikan dukungan penuh bagi kesehatan Elly, mulai dari fasilitas kesehatan KONI Pusat hingga jaminan melalui BPJS.

Turut mendampingi dalam kunjungan itu antara lain Wakil Ketua Umum (Waketum) I Mayjen TNI (Purn) Dr. Suwarno, Waketum II Mayjen TNI Soedarmo, Kabid Kesehatan Olahraga Marsma TNI (Purn) Rochmulyati, Wakabid Media dan Humas Tirto Prima Putra, serta Martinez dos Santos. Hadir pula petinju legendaris La Paene Masara yang dikenal dekat dengan Ellyas.

Jejak Sang “The Exocet”

Ellyas Pical lahir di Saparua, Maluku, 24 Maret 1957. Masa kecilnya diwarnai kehidupan sederhana sebagai pencari ikan. Ketertarikannya pada tinju tumbuh dari siaran pertandingan di TVRI, dengan legenda dunia Muhammad Ali sebagai idolanya.

Terinspirasi Ali, Elly mulai berlatih tinju pada usia 13 tahun secara diam-diam karena sempat dilarang orang tuanya.

Ellyas Pical . (Foto: Ist./Humas)

Di atas ring, Elly dikenal memiliki hook dan uppercut kiri yang cepat, akurat, dan keras. Pukulan eksplosifnya membuat ia dijuluki “The Exocet”, merujuk pada rudal buatan Prancis yang masyhur dalam Perang Malvinas.

Karier profesionalnya dimulai pada 1983 di kelas bantam junior (super terbang). Pada 19 Mei 1984, ia merebut gelar Orient and Pacific Boxing Federation (OPBF) setelah menang angka 12 ronde atas Hi-yung Chung di Seoul.

Puncak kariernya terjadi pada 3 Mei 1985, ketika Elly meraih gelar juara dunia International Boxing Federation (IBF) usai menumbangkan Chun Ju-do di Jakarta melalui KO. Gelar tersebut berhasil dipertahankan, antara lain dari Wayne Mulholland (Australia).

Perjalanan Elly tak selalu mulus. Ia sempat kalah dari Cesar Polanco (Republik Dominika), namun bangkit dan membalas lewat kemenangan KO pada laga ulang 5 Juli 1986 di Jakarta.

Ia juga mempertahankan gelar dari Dong-chun Lee sebelum akhirnya kalah KO ronde 14 dari Khaosai Galaxy (Thailand) pada 1987.

Dengan semangat pantang menyerah, Elly kembali merebut gelar IBF dari Tae-il Chang (Korea Selatan) pada 17 Oktober 1987 dan mempertahankannya selama dua tahun.

Gelar itu akhirnya lepas setelah ia kalah dari Juan Polo Perez (Kolombia) pada 14 Oktober 1989 di Virginia, Amerika Serikat.

Bagi dunia olahraga Indonesia, Ellyas Pical bukan sekadar mantan juara dunia, melainkan simbol kerja keras dan keberanian menembus panggung tinju internasional.

Dukungan dan doa publik kini mengiringi perjuangannya di luar ring, demi kesembuhan sang legenda. (Red/Gate 13/Foto: Ist./Humas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *