Pavilion Indonesia di Ajang CIBF ke-57 di Mesir Dibanjiri Pengunjung
Jakarta – Paviliun Indonesia menampilkan kekayaan budaya dan khazanah keislaman Nusantara dalam ajang Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 yang digelar di Kairo, Mesir.
Dilansir portal kemenag.go.id, Rabu (4/2), kehadiran paviliun ini menarik perhatian luas pengunjung internasional, dengan jumlah kunjungan mencapai lebih dari seribu orang per hari dari berbagai negara.
Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Lubenah Amir, mengatakan partisipasi Indonesia dalam pameran buku internasional tersebut menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada tradisi.
“Paviliun Indonesia tidak hanya menampilkan buku, tetapi juga memperkenalkan budaya, nilai-nilai Islam wasathiyah, serta kontribusi ulama Nusantara dalam peradaban Islam dunia,” ujar Lubenah di Kairo, Selasa (3/2).
CIBF ke-57 berlangsung pada 21 Januari hingga 3 Februari 2026. Pembukaan pameran digelar pada 21 Januari dan dihadiri sejumlah tokoh dari Mesir serta negara-negara lain.
Paviliun Indonesia secara resmi dibuka untuk umum pada 22 Januari 2026 oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Republik Indonesia untuk Mesir.
Berlokasi di Hall 1 B56+, Paviliun Indonesia berdampingan dengan sejumlah penerbit ternama Mesir, sehingga memudahkan akses dan interaksi pengunjung dengan berbagai konten yang ditampilkan.
Salah satu daya tarik utama paviliun adalah penampilan para relawan yang mengenakan busana adat Nusantara.
Melalui kerja sama Kemenag dengan Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, ditampilkan beragam busana tradisional dari Aceh, Melayu, Palembang, Jambi, Sulawesi, Riau, hingga Jawa.
Penampilan ini menarik minat pengunjung lokal dan internasional untuk berfoto sekaligus berdialog tentang keberagaman budaya Indonesia.
Selain menampilkan kekayaan budaya, Paviliun Indonesia juga mengangkat tema ekoteologi, yang menyoroti relasi antara agama dan kelestarian lingkungan. Berbagai publikasi Kemenag turut dipamerkan, di antaranya buku Ekoteologi Islam dan Tafsir Gender.
Lubenah menyebutkan, salah satu fitur paling ikonik di paviliun adalah mushaf Al-Qur’an bahasa isyarat. Fitur ini memungkinkan pengunjung dari berbagai negara menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan Al-Qur’an bagi komunitas tuli.
“Banyak pengunjung antusias mempelajari Al-Qur’an bahasa isyarat karena ini merupakan yang pertama di dunia. Ini menunjukkan kuatnya komitmen Indonesia terhadap inklusivitas layanan keagamaan,” katanya.
Paviliun Indonesia juga menampilkan karya-karya ulama Nusantara dalam bahasa Arab dan Arab Pegon, dengan latar bahasa Indonesia, Melayu, dan Sunda. Demonstrasi kaligrafi serta pembagian buku gratis terbitan Kemenag semakin menambah antusiasme pengunjung.
Lubenah menambahkan, keikutsertaan Indonesia dalam CIBF merupakan tindak lanjut dari Pernyataan Bersama tentang Kemitraan Strategis antara Pemerintah Republik Indonesia dan Republik Arab Mesir yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Abdel Fattah El-Sisi pada 12 April 2025.
“Kerja sama ini menegaskan pentingnya implementasi nilai-nilai Islam wasathiyah yang menjadi ciri khas kehidupan beragama di Indonesia,” ujarnya.
Melalui partisipasi aktif dalam ajang internasional ini, Kemenag berharap Indonesia semakin dikenal sebagai salah satu pusat rujukan Islam moderat dunia yang mampu menjembatani tradisi, budaya, dan peradaban global. (Mh/Foto: Ist./kemenag.go.id)
Discover more from RestorasiNews.com
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
