Opini

Lemhannas Goes to Campus: Meneguhkan Jati Diri, Menjemput Indonesia Emas 2045

Oleh Komjen Pol (P) Drs. I Ketut Suardana, M.Si.*

Lemhannas Goes to Campus bukan sekadar agenda kuliah umum atau kegiatan seremonial di lingkungan perguruan tinggi. Lebih dari itu, program ini merupakan ruang strategis untuk membangun kesadaran kebangsaan sekaligus mengajak generasi muda memahami bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kualitas, karakter, dan keberanian generasi penerusnya.

Di tengah perubahan dunia yang berlangsung begitu cepat, mahasiswa menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Disrupsi teknologi, kecerdasan artifisial, perubahan geopolitik, kompetisi ekonomi global, arus informasi yang nyaris tanpa batas, hingga potensi polarisasi sosial menuntut generasi muda memiliki kemampuan berpikir kritis sekaligus pijakan nilai yang kuat.

Karena itu, kecerdasan akademik saja tidak cukup. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap memiliki karakter, integritas, tanggung jawab sosial, serta kesadaran bahwa kemajuan bangsa harus dibangun di atas kepentingan nasional.

Di sinilah relevansi Lemhannas Goes to Campus menjadi semakin penting. Program tersebut dapat menjadi jembatan antara wawasan strategis kebangsaan dengan dunia akademik. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami persoalan bangsa, tetapi juga didorong untuk melihat dirinya sebagai bagian dari solusi dan kekuatan masa depan Indonesia.

Ketahanan nasional tidak seharusnya dipahami sebatas persoalan pertahanan dan keamanan. Ketahanan nasional merupakan kemampuan bangsa untuk bertahan, beradaptasi, menghadapi berbagai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan, baik yang bersifat militer maupun nonmiliter.

Artinya, ketahanan nasional tidak mungkin berdiri kokoh apabila pendidikan lemah, ekonomi rapuh, hukum tidak memberikan kepastian, masyarakat terpecah, budaya kehilangan jati diri, dan generasi mudanya kehilangan orientasi kebangsaan.

Kampus karena itu memiliki posisi yang sangat strategis. Kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga ruang pembentukan intelektualitas, karakter, kepemimpinan, keberanian menyampaikan gagasan, sekaligus tempat mahasiswa belajar memahami persoalan bangsa secara objektif dan bertanggung jawab.

Dalam konteks tersebut, Lemhannas Goes to Campus dapat menjadi ruang dialog antara pemikiran strategis kebangsaan dengan dinamika generasi muda. Indonesia tidak hanya perlu melahirkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang memahami bahwa kemajuan pribadi harus berjalan seiring dengan kemajuan masyarakat dan kepentingan bangsa.

Pancasila pun harus ditempatkan bukan sekadar sebagai materi yang dihafalkan, melainkan sebagai nilai yang dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila harus tercermin dalam cara berpikir, mengambil keputusan, menghormati perbedaan, menyelesaikan persoalan, menggunakan teknologi, membangun ekonomi, menjalankan demokrasi, hingga memperlakukan sesama warga negara.

Persatuan Indonesia juga tidak boleh berhenti sebagai slogan. Persatuan merupakan modal strategis bangsa untuk menghadapi kompetisi global.

Indonesia memiliki keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, wilayah, dan kepentingan. Keberagaman akan menjadi kekuatan apabila dikelola dengan kebijaksanaan, tetapi dapat berubah menjadi kerentanan apabila dimanfaatkan untuk membangun kebencian, disinformasi, dan polarisasi.

Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan membedakan informasi dan disinformasi, kritik dan provokasi, kebebasan berpendapat dan penyebaran kebencian. Literasi digital harus berjalan bersama literasi kebangsaan.

Indonesia Emas 2045 juga tidak cukup diwujudkan melalui pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi semata. Kemandirian bangsa harus dibangun pada berbagai bidang strategis, termasuk pangan, energi, air, pertahanan, ekonomi, sumber daya manusia, dan teknologi.

Kemandirian tersebut membutuhkan generasi muda yang tidak hanya mampu menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi. Kemajuan kecerdasan artifisial, misalnya, harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, pertanian, industri, serta berbagai kebutuhan masyarakat.

Teknologi tidak boleh berhenti menjadi alat konsumsi. Ia harus menjadi instrumen untuk memperkuat kedaulatan, produktivitas, dan daya saing bangsa.

Pada saat yang sama, ketahanan ekonomi dan kepastian hukum tidak dapat dipisahkan dari ketahanan nasional. Kepastian hukum diperlukan untuk menciptakan iklim ekonomi yang sehat, mendukung investasi, pembangunan berkelanjutan, serta memastikan pengelolaan sumber daya nasional berlangsung secara adil dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, membangun ketahanan nasional sesungguhnya merupakan pekerjaan lintas sektor dan lintas generasi.

Generasi muda tidak boleh hanya menjadi konsumen perkembangan zaman. Mahasiswa harus berani menjadi pencipta gagasan, inovator, penggerak perubahan, sekaligus penjaga nilai-nilai kebangsaan.

Pendidikan kebangsaan karena itu perlu disampaikan dengan pendekatan yang dialogis dan kritis. Generasi muda harus diberikan ruang untuk bertanya, berbeda pendapat, menguji gagasan, dan mencari solusi tanpa kehilangan rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bangsa.

Di sinilah Lemhannas Goes to Campus memiliki arti strategis. Program tersebut dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan wawasan kebangsaan dengan energi intelektual mahasiswa, sehingga kesadaran tentang Indonesia tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tengah masyarakat.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir secara otomatis ketika tahun 2045 tiba. Indonesia Emas harus dipersiapkan sejak sekarang melalui manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, berpengetahuan, produktif, inovatif, toleran, dan memiliki keberanian untuk mengabdi.

Kesejahteraan masyarakat, kualitas pendidikan, daya saing ekonomi, harmoni sosial, tata kelola pemerintahan, kepastian hukum, serta kemampuan menghadapi perubahan global merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional.

Karena itu, Lemhannas Goes to Campus perlu terus diperkuat. Kampus harus menjadi salah satu pusat persemaian kepemimpinan nasional dan tempat tumbuhnya generasi yang tidak tercerabut dari akar kebangsaan.

Dari kampus, gagasan kebangsaan dilahirkan.

Dari gagasan, kesadaran dibangun.

Dari kesadaran, pengabdian digerakkan.

Dan dari pengabdian itulah masa depan Indonesia dipersiapkan.

Pada akhirnya, mencintai Indonesia bukan hanya dengan mengibarkan bendera atau mengucapkan kata-kata patriotik. Mencintai Indonesia berarti bersedia menjaga persatuan, menghormati keberagaman, menegakkan keadilan, meningkatkan kualitas diri, menggunakan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar target waktu.

Ia adalah tanggung jawab sejarah.

Dan tanggung jawab itu hari ini berada di tangan generasi muda.

Untuk Indonesia yang berdaulat, tangguh, maju, adil, sejahtera, dan bermartabat.

*Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Seni Nusantara.


Discover more from Restorasi News

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Restorasi News

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading