Tiga Jam di Ubud, Gus Teja Bicara Napas Budaya dan Masa Depan
Ubud – Seruling bambu bukan sekadar alat musik bagi Gus Teja. Di balik tiupan napas dan permainan jari, tersimpan filosofi tentang kehidupan, strategi, serta bagaimana budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Pesan itu mengemuka dalam pertemuan selama sekitar tiga jam di kediaman Gus Teja, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, Senin (10/8/2026).
Perjumpaan tersebut berlangsung dalam suasana sederhana, tetapi diwarnai pembicaraan mendalam mengenai budaya, kehidupan, seni, dan peran generasi muda dalam menjaga warisan leluhur.
Rombongan tiba di kediaman Gus Teja sekitar pukul 12.00 Wita setelah menempuh perjalanan dari Denpasar. Suasana semakin hening ketika dari Radio Republik Indonesia terdengar lantunan Tri Sandya.
Para tamu kemudian dipersilakan duduk di bale begong. Air kelapa gading, jagung rebus, dan pisang rebus menjadi hidangan sederhana yang menemani percakapan.
Dalam suasana tersebut, orang tua Gus Teja menyampaikan pandangan mengenai budaya yang diibaratkan seperti air kelapa gading yang menyegarkan ketika manusia haus sekaligus mengingatkan manusia pada akar kehidupannya.
Kesederhanaan jagung dan pisang rebus juga menjadi gambaran kehidupan yang cukup dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pembicaraan kemudian mengarah pada filosofi seruling bambu. Perjalanan hidup dianalogikan seperti seruling yang baru menghasilkan suara ketika mendapatkan napas.
Gus Teja merangkumnya dalam sebuah kalimat yang sederhana namun sarat makna.
“Seruling adalah kata hati, sedangkan permainan jari adalah strategi,” ujar Gus Teja.
Bagi Gus Teja, seruling menjadi medium yang mempertemukan napas, perasaan, keterampilan, dan strategi.
Bambu menjadi wadah, napas menjadi sumber kehidupan, sementara suara menjadi ekspresi jiwa yang menemukan jalannya.
Percakapan berlanjut ke studio Gus Teja, ruang sederhana tempat karya-karya musik dilahirkan.
Di sana, para tamu mendengarkan tiga lagu seruling yang membawa nuansa tradisi sekaligus memperlihatkan kemungkinan baru dalam pengembangan seni musik.
Dari perjumpaan tersebut muncul pesan bahwa pelestarian budaya tidak berarti membekukan masa lalu. Budaya justru harus diberi ruang untuk mendapatkan “napas baru” agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Warisan budaya, terutama di tangan generasi muda, bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia dapat berkembang menjadi karya, identitas, sekaligus kekuatan bangsa.
Menjelang perpisahan, Gus Teja menyampaikan pesan lain yang kembali menegaskan makna seruling dalam pandangannya.
“Suara seruling adalah panggilan sukma, sukma yang berhembus dengan keheningan,” katanya.
Pertemuan itu meninggalkan satu kesimpulan penting: kecintaan terhadap budaya tidak selalu harus hadir melalui suara yang keras.
Ia dapat tumbuh melalui ketekunan berkarya, keberanian menjaga warisan, dan kemampuan generasi muda membawa akar budaya menuju masa depan.
Selama bambu masih diberi napas, tangan masih berkarya, dan generasi penerus tetap mengenal akar budayanya, suara budaya diyakini akan terus menemukan jalannya. (Red/Gate 13/Foto: Ist.)
Discover more from Restorasi News
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
