Sandiwara Sunda Miss Tjitjih Meledak, 1.358 Orang Berebut Tiket Gratis Pertunjukan ‘Tumbal’
Jakarta Pusat – Pertunjukan legendaris Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928 kembali membuktikan daya tariknya di tengah masyarakat urban.
Pementasan rutin bertajuk Tumbal yang digelar di Gedung Kesenian Miss Tjitjih membludak peminat, bahkan mayoritas penontonnya berasal dari kalangan generasi muda.
Pementasan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) itu menjadi pertunjukan ketiga Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 sepanjang tahun 2026.
Antusiasme publik terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 1.358 orang, padahal kapasitas gedung hanya mampu menampung 252 penonton. Lonjakan tersebut meningkat sekitar 145 persen dibandingkan pertunjukan sebelumnya pada April lalu yang mencatat 553 pendaftar.
Kepala UP GPSB, Rinaldi, menilai tingginya minat masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki ruang besar di Jakarta.
“Kami mengapresiasi animo masyarakat terhadap pertunjukan seni budaya yang begitu tinggi. Menariknya, penonton didominasi oleh generasi muda,” ujar Rinaldi, Senin (25/5).
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa pertunjukan tradisional tidak kehilangan relevansi di tengah gempuran hiburan digital dan modern.
Selain menjadi sarana hiburan, Sandiwara Sunda Miss Tjitjih juga dinilai berfungsi sebagai media edukasi budaya sekaligus penguat identitas multikultural Jakarta.
Rinaldi menambahkan, keberlangsungan pementasan ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga keberagaman budaya yang tumbuh dan berkembang di ibu kota, termasuk budaya Sunda.
Ia merujuk Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta yang memberikan kewenangan khusus kepada Jakarta dalam pemajuan budaya Betawi maupun budaya lain yang hidup di tengah masyarakat Jakarta.
“Direncanakan sepanjang tahun 2026 terdapat 10 kali pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bersifat gratis,” katanya.
Pementasan Tumbal sendiri menghadirkan kisah bernuansa mistis dan psikologis tentang Mardi, seorang pria haus kekuasaan yang membuat perjanjian dengan makhluk gaib demi memenuhi ambisinya.
Konflik berkembang ketika sang istri, Rati, harus memilih antara kehilangan suami atau meneruskan perjanjian kelam yang membawa kutukan turun-temurun kepada keluarganya.
Cerita tersebut menyuguhkan ketegangan sekaligus kritik moral tentang ambisi, pengorbanan, dan konsekuensi dari keserakahan manusia. (Red/Mh/Foto: Ist./Instagram)

