Pengabdian Jadi Fondasi Indonesia Emas 2045, Wakapolda Bali: Bhayangkara Harus Jadi Cahaya Bangsa
Denpasar – Di tengah dinamika tantangan keamanan yang terus berkembang, pengabdian, integritas, dan kepemimpinan dinilai menjadi fondasi utama dalam memperkuat peran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menuju Indonesia Emas 2045.
Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi inspiratif bersama Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Bali, Brigjen Pol. I Made Astawa, S.I.K., M.Si., di Denpasar, Senin (6/7).
Pertemuan yang berlangsung selama sekitar satu jam sepuluh menit itu menjadi ruang dialog mengenai makna pengabdian seorang Bhayangkara di tengah perubahan zaman.
Suasana yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan dimanfaatkan untuk membahas arah kepemimpinan, nilai-nilai kebangsaan, hingga tantangan membangun institusi Polri yang semakin profesional, modern, dan dipercaya masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, Brigjen Pol. I Made Astawa menegaskan bahwa Bhayangkara tidak hanya memikul tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan dan peradaban.
Menurutnya, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila setiap insan Bhayangkara menempatkan pengabdian sebagai panggilan moral yang dilandasi integritas, profesionalisme, serta ketulusan dalam melayani masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan moto Kapolri ke-11, Jenderal Pol. (Purn.) Kunarto, yakni “Tekadku Pengabdian Terbaik.”
Moto tersebut dinilai tetap relevan sebagai pedoman bagi setiap anggota Polri bahwa kehormatan tidak dibangun oleh pangkat maupun jabatan, melainkan oleh kualitas pengabdian yang diberikan kepada bangsa dan negara.
Lebih lanjut, Brigjen Pol. I Made Astawa menguraikan bahwa jati diri Bhayangkara lahir dari nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para pendahulu bangsa, salah satunya filosofi Mahapatih Gajah Mada yang meliputi Satya Haprabu sebagai simbol kesetiaan kepada negara, Hanyaken Musuh sebagai keberanian menghadapi ancaman, Kinan Pratidina yang mencerminkan kesiapsiagaan tanpa henti, serta Teka Satrisna yang bermakna ketulusan berkorban tanpa pamrih.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, tetap hidup dalam Tribrata dan Catur Prasetya sebagai landasan moral sekaligus pedoman etika profesi bagi setiap insan Bhayangkara dalam menjalankan tugas di tengah dinamika kehidupan masyarakat.
Diskusi tersebut juga menegaskan bahwa tantangan Polri pada masa mendatang tidak semata berkaitan dengan penegakan hukum, tetapi juga membangun kepercayaan publik melalui pelayanan yang humanis, kepemimpinan yang berintegritas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial, teknologi, dan perkembangan global.
Melalui penguatan karakter, profesionalisme, serta nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi pengabdian, Polri diharapkan terus memperkokoh perannya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, sekaligus menjadi bagian penting dalam mengawal perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (Red/Gate 13/Foto: Dok./Gate 13)
Discover more from Restorasi News
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

