Kolaborasi Seniman Syahnagra dan Musisi Ibu Kota Lahirkan Lagu Etnik “Cendrawasih”
Jakarta – Kolaborasi lintas seni kembali lahir di industri kreatif Tanah Air. Seorang pelukis senior Indonesia, Syahnagra Ismail, bersama sejumlah musisi Ibu Kota menghadirkan karya musik berjudul Cendrawasih.
Lagu tersebut memadukan kekuatan lirik puitis, nuansa alam Nusantara, serta sentuhan musik modern yang dikemas dalam aransemen slow rock dengan sisipan kontemporer.
Lirik lagu Cendrawasih ditulis langsung oleh Syahnagra Ismail, sementara aransemen musik digarap Dika Rev, seorang gitaris bergelar Bachelor of Music lulusan Australian Institute of Music (AIM) Sydney NSW, Australia, bersama para musisi yang tergabung dalam wadah Balai Budaya Musik (BBM).
Lagu tersebut kemudian dibawakan oleh penyanyi sekaligus gitaris band Ruh, Bukhori. Sejumlah musisi dan seniman lain juga terlibat dalam proses produksi, di antaranya Abhy pada gitar, Hafidz pada drum, serta Fadil pada bass.
Pembuatan video klip lagu Cendrawasih dilakukan di Balai Budaya Jakarta dengan menampilkan seniman lukis Ames Abadi sebagai tokoh model dalam video klip tersebut.
Ames Abadi, pelukis muda yang juga tergabung dalam wadah Balai Budaya Musik, turut menuangkan lagu tersebut ke dalam karya visual. Melalui goresan pena bergaya abstrak di atas kanvas, Ames menghasilkan sebuah karya lukis yang dibuat langsung di lokasi pengambilan gambar di Kebun Raya Bogor.
Hasilnya, bersamaan dengan rampungnya proses produksi video klip Cendrawasih, lahir pula karya lukis Ames Abadi berjudul Perjumpaan di Hutan Bogor.

Lagu Cendrawasih juga telah ditayangkan perdana melalui kanal YouTube Ames Abadi pada Sabtu (9/5/2026).
Syahnagra mengaku proses kreatif penulisan lagu tidak terlepas dari pengalaman panjangnya sebagai pelukis yang telah berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.
Menurut alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Akademi Seni Grafis Stockholm, Swedia, menjadi seorang pelukis bukan sekadar menuangkan warna di atas kanvas, melainkan juga menyerap pengalaman hidup, budaya, dan alam yang ditemui selama perjalanan.
“Saya sudah dari Aceh sampai Papua. Semua perjalanan itu menjadi karakter saya. Di mana saja saya bisa membuat syair dan puisi, lalu saya tuangkan dalam karya,” ujar Syahnagra kepada awak media, Jumat (22/5/2026).
Inspirasi lagu Cendrawasih, lanjut Syahnagra, lahir ketika dirinya pernah mengunjungi kawasan suku Asmat di Papua. Saat itu, ia menyaksikan langsung suasana alam yang menurutnya begitu magis dan penuh ketenangan.
Ia menceritakan, ketika duduk di ujung jembatan dengan hamparan sungai dan hutan di hadapannya, terdengar riuh suara burung menjelang senja. Namun suasana mendadak hening ketika seekor burung cendrawasih muncul.
Pengalaman tersebut kemudian melahirkan pemaknaan mendalam bahwa cendrawasih merupakan “raja burung hutan”, yang akhirnya dijadikan judul lagu.
“Ketika burung cendrawasih datang, suara burung lain seperti hilang. Dari situ saya merasa cendrawasih adalah simbol keagungan alam Papua,” ungkapnya.
Syahnagra juga menegaskan bahwa lagu yang ditulisnya berbeda dari kebanyakan karya musik lain karena seluruh lirik lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar imajinasi.
“Kalau saya tidak mengarang. Apa yang saya lihat, itu yang saya tulis,” tegasnya.

Pelukis yang pernah menggelar pameran retrospektif lima dekade berkarya bertajuk Painting Out Loud pada 2023 itu mengaku latar belakangnya sebagai seniman lukis sangat membantu proses penciptaan lirik lagu.
Baginya, proses kreatif tersebut berjalan mengalir karena seluruh pengalaman telah tersimpan kuat dalam ingatan dan emosinya selama menjelajahi berbagai wilayah Nusantara.
“Saya tinggal mengingat pengalaman yang pernah saya rasakan langsung,” katanya.
Terkait tantangan dalam proses penulisan lagu, Syahnagra menilai setiap karya seni tentu memiliki tantangan tersendiri. Namun baginya, proses berkarya lebih dinikmati sebagai perjalanan kreatif yang mengalir secara alami.
Secara keseluruhan, lagu Cendrawasih menggambarkan pengalaman pribadi Syahnagra terhadap keindahan alam Indonesia, khususnya Papua, yang kemudian dituangkan menjadi ungkapan rasa dan refleksi batin melalui musik.
Melalui perilisan lagu tersebut, Syahnagra berharap karya musik Indonesia dapat ikut mengangkat kekayaan alam Nusantara sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Alam adalah bagian penting dalam kehidupan. Kebesaran Indonesia lahir dari alamnya, dari hutan, sungai, dan seluruh kekayaan Nusantara. Itu harus bisa dinyanyikan dengan hebat oleh musisi Indonesia,” pungkasnya. (Red/Mh/Foto: Ist./Dok.)
Discover more from Restorasi News
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

