Polda NTB Perkuat Pengamanan MotoGP Mandalika 2026
Mataram – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) melaksanakan pengamanan terpadu melalui Operasi Mandalika Rinjani 2026 untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026.
Operasi melibatkan personel gabungan, pemanfaatan teknologi, pengaturan lalu lintas, sterilisasi kawasan, serta koordinasi bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), pemerintah daerah, penyelenggara, dan masyarakat.
Pengamanan tersebut dirancang untuk menjaga keselamatan penonton, pembalap, kru, wisatawan, dan masyarakat, sekaligus memastikan mobilitas transportasi serta distribusi logistik berjalan tertib. Jumlah penonton tercatat mencapai 157.875 orang, meningkat sekitar 12,57 persen dibandingkan dengan 140.235 penonton pada 2025.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda NTB Kombes Pol. Mohammad Kholid mengatakan, pengamanan kegiatan internasional membutuhkan perencanaan menyeluruh dan keterlibatan berbagai pihak.
“Semangat Polisi Bersama Masyarakat yang digaungkan Bapak Kapolri menemukan wujud nyatanya dalam pengamanan MotoGP Mandalika 2026. Sebanyak apa pun personel yang kami kerahkan, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keamanan tidak mungkin terwujud tanpa dukungan masyarakat. Karena itu, masyarakat bukan sekadar objek yang kami amankan, tetapi mitra utama dalam menciptakan keamanan itu sendiri,” ujar Kholid, dlam siaran persnya, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat yang digaungkan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
Persiapan pengamanan dilaksanakan melalui survei lapangan, rapat koordinasi, pemetaan kerawanan, Latihan Praoperasi (Latpraops), Tactical Floor Game (TFG), serta simulasi penanganan keadaan darurat. Potensi kerawanan yang diantisipasi mencakup persoalan lahan, transportasi, parkir, tiket palsu, kepadatan pengunjung, kebakaran, dan gangguan keamanan serta ketertiban masyarakat.
Pengerahan kekuatan dibagi dalam tiga tahap. Pada 5-7 Oktober 2026, sebanyak 1.350 personel disiapkan untuk pengamanan awal. Pada tahap utama, 8-12 Oktober, sebanyak 2.678 personel gabungan dari Polda NTB, kepolisian resor (Polres) jajaran, unsur Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri), dan dukungan TNI dikerahkan.
Selanjutnya, sebanyak 839 personel direncanakan tetap bertugas pada 13-16 Oktober untuk mendukung pengamanan pascabalapan, kepulangan pengunjung, dan distribusi logistik.
“Keamanan tidak dibangun ketika balapan dimulai. Ia dibangun jauh sebelumnya melalui identifikasi risiko, koordinasi, latihan, dan kesiapan setiap unsur. Prinsip kami, setiap potensi gangguan harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi persoalan yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat,” jelas Kholid.
Dalam pelaksanaan operasi, pengamanan dibagi menjadi empat ring. Ring 1 meliputi paddock dan pusat kendali perlombaan (race control); Ring 2 mencakup area teknis dan bagian dalam sirkuit; Ring 3 meliputi kawasan penonton, tribun (grandstand), dan fasilitas pendukung; sedangkan Ring 4 mencakup kawasan luar sirkuit, area parkir, dan jalur akses menuju Mandalika.
Polri memfokuskan pengamanan pada Ring 3 dan Ring 4 dengan tetap berkoordinasi bersama unsur pengamanan di zona lainnya.
Secara keseluruhan, disiapkan 205 titik pengamanan, termasuk 42 pos pengamanan serta 38 titik pengamanan tambahan di kawasan Mandalika di luar pos utama. Titik pengamanan meliputi terminal shuttle bus, kawasan bukit, area perkemahan (camping ground), hotel, tribun, lokasi kesiapsiagaan pasukan, dan titik penguraian kemacetan.
Pengamanan turut menjangkau pintu masuk Pulau Lombok. Sebanyak 206 personel dialokasikan untuk Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid dan Pelabuhan Lembar, Gili Mas, Kayangan, serta Bangsal.
Sebanyak 223 personel lainnya disiapkan untuk mengamankan jalur pergerakan dari pintu kedatangan menuju kawasan Mandalika. Pengawalan logistik, termasuk pergerakan kontainer dari bandara menuju sirkuit, juga dilaksanakan dengan melibatkan personel lalu lintas dan unsur terkait.
Untuk mendukung kelancaran pergerakan penonton, Polda NTB bersama penyelenggara menyiapkan pemisahan jalur kendaraan pribadi, sepeda motor, shuttle bus, kendaraan operasional, dan kendaraan tamu sangat penting (very important person atau VVIP).
Sebanyak 118 kendaraan shuttle masuk dalam perencanaan transportasi, terdiri atas 60 bus di Gate 1, 22 bus di Gate 2, dan 32 bus di Gate 3, serta empat kendaraan Hiace untuk kawasan Bukit 360.
Sistem transportasi diintegrasikan dengan kantong parkir, terminal shuttle, pemeriksaan awal penonton, dan pengaturan akses menuju tribun berdasarkan kategori tiket. Bundaran Sunggung menjadi salah satu titik perhatian karena merupakan simpul pertemuan arus dari kawasan sirkuit, parkir timur, dan jalur Bypass BIL-Mandalika.
Pada 8 Oktober 2026, Kapolda NTB Irjen Pol. Kalingga Rendra Raharja turun langsung melaksanakan simulasi pergerakan penonton dari Bundaran Sunggung menuju sirkuit. Simulasi tersebut menguji pengoperasian shuttle, pemisahan arus kendaraan, pengaturan akses, dan langkah penguraian kepadatan. Rekayasa lalu lintas juga disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.
Pengawasan diperkuat melalui optimalisasi 347 kamera televisi sirkuit tertutup (closed-circuit television atau CCTV), penggunaan kamera yang dikenakan petugas (bodycam), teknologi pengenalan wajah (face recognition), dan sarana komunikasi lapangan. Posko Command Center Mandalika berfungsi sebagai pusat informasi, komunikasi, koordinasi, dan pengendalian operasi.
Sistem komunikasi SOT Presisi juga menjadi bagian dari rancangan pertukaran informasi antara petugas lapangan dan pusat kendali.
“Teknologi membantu kami mempercepat respons dan membuat pengamanan lebih terukur. Tetapi teknologi tidak dapat menggantikan peran manusia. Petugas tetap harus hadir, mendengar, membantu, dan memberikan pelayanan. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan teknologi pengamanan adalah manfaat yang dirasakan masyarakat,” kata Kholid.
Pencegahan ancaman dilakukan melalui sterilisasi sejumlah kawasan strategis oleh Tim Gegana dan unit anjing pelacak K-9. Perencanaan operasi mencakup tiga perangkat sinar-X (X-Ray) dan 30 alat pendeteksi logam (metal detector). Pemeriksaan akses dilakukan secara berlapis melalui validasi tiket, pemeriksaan barang bawaan, dan pemeriksaan badan.
Tim antidrone disiapkan untuk mengantisipasi penggunaan pesawat tanpa awak tanpa izin yang berpotensi mengganggu perlombaan. Unsur reserse kriminal, siber, dan identifikasi juga mendukung kesiapan penegakan hukum.
Sementara itu, rencana kontingensi mencakup kemungkinan bencana alam, gangguan massa, ancaman teror, dan kebutuhan evakuasi penonton maupun tamu VVIP, dengan dukungan skema penyelamatan, pelayanan kesehatan, dan koordinasi lintas instansi.
Selama periode pengamanan 8-11 Oktober 2026, Polda NTB mencatat 13 insiden menonjol yang membutuhkan penanganan petugas. Insiden tersebut meliputi laporan pencurian telepon seluler, kebakaran kendaraan di kawasan Gate 1, kebakaran lahan di jalur Bypass BIL-Mandalika, pelanggaran ketertiban oleh sejumlah penonton, serta penanganan gangguan kesehatan yang dialami kru MotoGP.
Meski terdapat sejumlah kejadian, situasi keamanan secara umum dapat dikendalikan sehingga agenda utama perlombaan tetap berlangsung.
Kholid menegaskan, kesiapan, kecepatan respons, dan kemampuan mengendalikan situasi menjadi bagian penting dari evaluasi pengamanan untuk penyelenggaraan kegiatan internasional berikutnya.
Pelaksanaan pengamanan juga mendapat apresiasi dari Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA). Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC Ahmad Pajar menyampaikan penghargaan kepada Kapolda NTB beserta seluruh jajaran.
“Yang pertama, kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pelaksanaan pengamanan yang luar biasa dari Pak Kapolda dan jajarannya,” ujar Ahmad Pajar.
Polda NTB menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel gabungan, TNI, pemerintah daerah, penyelenggara, petugas transportasi, tenaga kesehatan, relawan, pelaku usaha, serta masyarakat NTB, khususnya masyarakat Kabupaten Lombok Tengah dan kawasan Mandalika.
Kholid menyatakan bahwa keamanan merupakan salah satu fondasi bagi kenyamanan wisatawan, kepercayaan penyelenggara, reputasi Mandalika sebagai destinasi internasional, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Transformasi pengamanan bukan hanya tentang penggunaan teknologi atau penambahan kekuatan personel. Yang kami bangun adalah perubahan cara pandang, dari sekadar menjaga lokasi menjadi mengelola keselamatan, dari mengendalikan kerumunan menjadi melayani masyarakat, dan dari bekerja sendiri menjadi membangun keamanan bersama seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat Polisi Bersama Masyarakat harus terus diterapkan dalam pelaksanaan tugas kepolisian sehari-hari.
“MotoGP Mandalika bukan hanya milik penyelenggara atau kepolisian. Ini kebanggaan masyarakat NTB dan Indonesia. Karena itu, menjaga keamanan Mandalika berarti menjaga nama baik kita bersama. Polisi Bersama Masyarakat bukan sekadar slogan, tetapi semangat untuk memastikan setiap pengunjung pulang dengan rasa aman, membawa pengalaman baik, dan memiliki keinginan untuk kembali ke Lombok,” pungkas Kholid. (Red/Gate 13/Foto: Ist.)
Discover more from Restorasi News
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
