Olahraga

Tiga Atlet Bali Berprestasi Dunia, Gubernur Koster Siapkan Bonus dan Beasiswa

Denpasar – Prestasi membanggakan tiga atlet disabilitas asal Bali di panggung olahraga internasional mendapat perhatian langsung Gubernur Bali Wayan Koster.

Setelah berhasil mempersembahkan medali emas, perak, dan perunggu bagi Indonesia, bahkan mencatatkan rekor dunia, ketiga atlet tersebut dijanjikan bonus penghargaan dan dukungan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

Komitmen tersebut disampaikan Koster saat menerima tiga atlet berprestasi di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (30/10/2026) sore.

Dalam pertemuan tersebut, Koster didampingi Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali.

Ketiga atlet tersebut adalah I Kadek Dwi Purwana Yasa, Ni Made Arianti Putri, dan Ni Nengah Widiasih. Mereka berhasil mengharumkan nama Bali dan Indonesia dalam Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 yang berlangsung di Jepang pada 18-24 Oktober 2026.

Salah satu pencapaian paling menonjol ditorehkan I Kadek Dwi Purwana Yasa, atlet para atletik berusia 18 tahun yang berhasil meraih medali emas nomor lempar cakram putra klasifikasi F57.

Bertanding di Stadion Paloma Mizuho, Nagoya, Jepang, Selasa (20/10/2026), Kadek Dwi mencatatkan lemparan terbaik sejauh 49,75 meter. Hasil tersebut sekaligus mempertajam rekor dunia miliknya sendiri yang sebelumnya tercatat sejauh 48,68 meter pada kejuaraan World Para Athletics Grand Prix 2026 di Meksiko.

Peningkatan sejauh 1,07 meter tersebut mengantarkan Kadek Dwi meraih medali emas sekaligus mencatatkan pencapaian baru dalam perjalanan kariernya sebagai atlet para atletik Indonesia.

Prestasi gemilang juga dipersembahkan Ni Made Arianti Putri melalui cabang olahraga para atletik nomor lari 100 meter putri klasifikasi T12.

Bersama pelari pendampingnya, Guntur Wijanarko, Arianti berhasil meraih medali perunggu dengan catatan waktu 12,51 detik. Hasil tersebut sekaligus menjadi catatan waktu terbaik pribadinya dalam nomor pertandingan tersebut.

Keberhasilan Arianti memperlihatkan pentingnya koordinasi, konsentrasi, dan kerja sama antara atlet dengan pelari pendamping dalam kompetisi para atletik.

Sementara itu, atlet senior Ni Nengah Widiasih kembali menunjukkan kemampuannya bersaing di tingkat internasional melalui cabang olahraga para angkat berat.

Bertanding pada kelas 41 kilogram putri, Widiasih berhasil meraih medali perunggu dengan angkatan terbaik seberat 97 kilogram.

Tidak berhenti pada pencapaian tersebut, Widiasih juga menyumbangkan medali perak pada nomor beregu campuran atau mixed team event.

Dengan demikian, ketiga atlet asal Bali tersebut berhasil mempersembahkan empat medali bagi Indonesia, terdiri atas satu emas, satu perak, dan dua perunggu, sekaligus mencatatkan satu rekor dunia baru.

Koster Tegaskan Dukungan bagi Masa Depan Atlet

Dalam pertemuan di Jaya Sabha, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi atas perjuangan, kerja keras, dan dedikasi ketiga atlet yang berhasil membawa nama Indonesia ke panggung olahraga internasional.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Bali, tetapi juga memperlihatkan kemampuan atlet disabilitas Indonesia untuk bersaing dengan atlet-atlet terbaik dari berbagai negara.

“Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Bali, tetapi juga membuktikan bahwa atlet disabilitas kita memiliki daya saing untuk berprestasi di tingkat internasional,” ujar Koster.

Sebagai bentuk penghargaan, Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen menyiapkan bonus prestasi dan bantuan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.

“Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen menyiapkan bonus dan bantuan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi guna mendukung masa depan para atlet berprestasi,” kata Koster.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap keberlanjutan kehidupan atlet, termasuk setelah mereka menyelesaikan masa aktif bertanding.

Dukungan pendidikan dinilai penting karena atlet juga membutuhkan kesempatan mengembangkan kemampuan akademik, meningkatkan keterampilan, dan mempersiapkan masa depan di luar arena olahraga.

Koster menegaskan bahwa prestasi yang diraih para atlet harus memperoleh perhatian yang sepadan, tidak hanya dalam bentuk penghargaan atas medali, tetapi juga melalui dukungan terhadap pengembangan potensi mereka.

“Dukungan pendidikan ini diharapkan membantu keberlanjutan pengembangan potensi atlet, tidak hanya selama masa aktif bertanding tetapi juga untuk masa depan mereka,” tuturnya.

Perhatian tersebut juga diharapkan menjadi dorongan bagi atlet disabilitas lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan dan meningkatkan prestasi melalui proses pembinaan yang berkelanjutan.

Keberhasilan Kadek Dwi, Arianti, dan Widiasih memperlihatkan bahwa pembinaan olahraga disabilitas memiliki potensi besar dalam menghasilkan atlet berprestasi internasional.

Pencapaian mereka juga menjadi pengingat pentingnya penyediaan kesempatan yang setara, fasilitas latihan yang memadai, pendampingan profesional, serta dukungan pendidikan dan kesejahteraan bagi atlet.

Melalui pembinaan yang konsisten, atlet disabilitas diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mempersiapkan kehidupan setelah masa kompetisi.

Gubernur Koster berharap prestasi ketiga atlet tersebut menjadi inspirasi bagi generasi muda Bali untuk terus berjuang, meningkatkan kemampuan, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.

Pemerintah Provinsi Bali juga berharap keberhasilan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan olahraga disabilitas agar semakin banyak atlet daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Keberhasilan tiga atlet Bali di Asian Para Games 2026 tidak hanya menjadi catatan prestasi olahraga, tetapi juga memperlihatkan pentingnya kerja keras, ketekunan, dan dukungan berkelanjutan dalam membangun prestasi.

Bagi Bali dan Indonesia, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus harapan bahwa olahraga disabilitas terus memperoleh perhatian, kesempatan, dan dukungan yang layak.

Penghargaan terhadap atlet berprestasi pada akhirnya tidak hanya diukur melalui bonus yang diberikan, tetapi juga melalui keberlanjutan pembinaan, kesempatan pendidikan, dan jaminan bahwa perjuangan mereka mendapat perhatian untuk masa depan yang lebih baik.

(Red/Gate 13/Foto: Ist./)


Discover more from Restorasi News

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Restorasi News

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading