Ramadan Ceria di Kemendikdasmen, Perkuat Komitmen Pendidikan Inklusif untuk Semua Anak
Jakarta – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Masjid Baitut Tholibin (masjid di lingkungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah), Jakarta, Sabtu (14/3), saat lebih dari 1.600 peserta dari berbagai komunitas menghadiri kegiatan “Ramadan Ceria: Berbuka Bersama 1.000 Difabel”.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kebahagiaan berbuka puasa bersama, tetapi juga menjadi momentum penegasan komitmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) dalam memperkuat pendidikan inklusif bagi seluruh anak Indonesia.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap anak tanpa terkecuali, termasuk anak berkebutuhan khusus (anak dengan kondisi fisik, intelektual, atau sensorik yang memerlukan layanan pendidikan khusus).
“Semua anak Indonesia, apa pun keadaannya dan di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan layanan pendidikan. Karena itu, kami berkomitmen memperkuat pendidikan inklusi agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama anak lainnya,” ujarnya.
Sebagai wujud komitmen tersebut, Kemendikdasmen RI menyiapkan sejumlah langkah strategis pada 2026 untuk memperluas akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Selain memperkuat praktik pendidikan inklusif di sekolah reguler, pemerintah juga akan menambah Sekolah Luar Biasa (SLB) (sekolah khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus) di berbagai daerah yang masih membutuhkan.
Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Kemendikdasmen RI akan memperkuat kapasitas sekolah melalui program pelatihan guru pendamping (tenaga pendidik yang mendampingi anak berkebutuhan khusus dalam proses belajar di sekolah inklusif).
“Tantangan pendidikan inklusi bukan hanya pada fasilitas, tetapi juga kesiapan guru dan lingkungan sekolah. Karena itu pada 2026, kami akan mulai melatih lebih banyak guru pendamping agar layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus semakin optimal,” jelas Mendikdasmen.
Ia menambahkan, penguatan pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pendidikan, tetapi juga bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih terbuka dan menghargai keberagaman.
“Kita ingin membangun masyarakat yang tidak membuat sekat antara mereka yang berkebutuhan khusus dengan yang lainnya. Semua anak Indonesia memiliki potensi menjadi anak hebat jika diberi kesempatan pendidikan yang berkualitas,” tambahnya.

Peluncuran PijatMu dan Program Sosial Ramadan
Acara berbuka puasa bersama berlangsung meriah dengan berbagai penampilan dari peserta difabel (penyandang disabilitas). Mereka menampilkan beragam kreativitas, mulai dari hadroh (seni musik Islami), pembacaan ayat suci Al-Qur’an, mengaji dengan bahasa isyarat, dongeng, hingga pembacaan puisi.
Penampilan tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berpartisipasi aktif di ruang publik.
Dalam kesempatan yang sama, Mendikdasmen turut meluncurkan komunitas PijatMu (program pemberdayaan terapis pijat tunanetra), sebuah inisiatif dari Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (organisasi sosial keagamaan di Indonesia).
Program ini bertujuan memperkuat jejaring, meningkatkan kapasitas, serta mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui pengembangan keterampilan dan perluasan akses layanan kesehatan alternatif bagi masyarakat.
Selain itu, diperkenalkan pula program mudik gratis bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari rangkaian Ramadan Ceria. Program ini menyediakan layanan transportasi bagi peserta yang akan pulang ke kampung halaman.
Kemendikdasmen RI juga menyalurkan bantuan berupa paket sembako (kebutuhan pokok), perlengkapan ibadah, baju koko untuk anak-anak, serta Al-Qur’an Braille (kitab suci Al-Qur’an dengan huruf timbul untuk tunanetra) guna mendukung aktivitas ibadah selama Ramadan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui praktik nyata kepedulian sosial yang menghadirkan ruang kebersamaan bagi semua kalangan.
Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat empati sekaligus meneguhkan komitmen bahwa tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas.

