Glow of Peace Terangi Bundaran HI, Wagub Rano: Keberagaman Jakarta Harus Menghasilkan Kesejahteraan
Jakarta – Cahaya warna-warni yang menghiasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Jumat (29/5) malam, tidak sekadar menjadi atraksi visual menyambut Hari Raya Waisak 2570 Tahun Buddhis.
Di balik kemeriahan acara “Illumination of Jakarta: Glow of Peace”, tersimpan pesan kuat tentang toleransi, persatuan, dan optimisme ekonomi ibu kota.
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa Jakarta terus berupaya menjadikan keberagaman sebagai kekuatan utama dalam membangun kota yang inklusif dan berbudaya.
Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur maupun tingginya gedung pencakar langit, tetapi juga dari kemampuan warganya untuk hidup berdampingan dalam semangat saling menghormati.
“Jakarta ingin menjadikan keberagaman sebagai jembatan, bukan sekat. Kota yang besar bukan hanya diukur dari tingginya gedung di kawasan Bundaran HI, tetapi juga dari lapangnya hati kita menerima setiap anak bangsa dengan penuh rasa hormat, ketulusan, dan persaudaraan,” ujar Rano.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama umat Buddha tersebut menjadi bagian dari komitmen menghadirkan ruang publik yang terbuka bagi seluruh kelompok masyarakat dan berbagai ekspresi budaya maupun keagamaan.
Rano menilai nilai-nilai Trisuci Waisak yang mengajarkan kebijaksanaan, welas asih, dan harmoni sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Jakarta yang majemuk.
“Pesan utamanya adalah kita bisa menampilkan kebersamaan di tengah kota. Inilah mengapa muncul tagline ‘Jaga Jakarta’. Karena Jakarta adalah milik kita bersama dan semua punya tanggung jawab untuk menjaganya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Rano juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan komunitas Buddha, untuk ikut menjaga lingkungan melalui langkah sederhana seperti membiasakan pemilahan sampah dari rumah, tempat ibadah, maupun lingkungan sekitar sebagai bagian dari gerakan #JagaJakarta.
Ia menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir Bundaran HI telah berkembang menjadi ruang publik yang menampilkan berbagai kegiatan budaya dan keagamaan, mulai dari Christmas Carol, Festival Imlek Jakarta, Jakarta Bedug Festival, Pawai Ogoh-Ogoh, hingga Jakarta Penuh Warna.
“Malam ini semangat itu kembali menyala melalui Illumination of Jakarta dengan tema Glow of Peace. Cahaya di Bundaran HI bukan sekadar hiasan kota, tetapi juga menjadi simbol harapan agar Jakarta terus menjadi rumah yang damai, toleran, adil, dan menenteramkan seluruh warganya,” tutur Rano.
Selain memperkuat harmoni sosial, Pemprov DKI Jakarta juga melihat kegiatan budaya dan keagamaan sebagai instrumen penggerak ekonomi perkotaan.
Rano mengungkapkan bahwa rangkaian kegiatan yang digelar sejak akhir tahun hingga masa Lebaran memberikan kontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi Jakarta yang mencapai sekitar Rp67 triliun.
“Itu mengindikasikan bahwa sebuah kegiatan, jika dikemas dengan baik, akan menghasilkan dampak positif. Inilah yang akan menjadi format kebersamaan Jakarta sekaligus menggerakkan ekonomi,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan Glow of Peace tidak hanya menghadirkan pengalaman visual yang menarik bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, dan kedamaian di tengah kehidupan perkotaan yang dinamis.
“Semoga setiap cahaya yang kita saksikan malam ini menyalakan kembali harapan bahwa Jakarta dapat tumbuh sebagai kota yang aman, nyaman, penuh kasih, dan menyentuh setiap warganya,” tandasnya.
Acara “Illumination of Jakarta: Glow of Peace” turut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Uus Kuswanto, sejumlah anggota DPRD DKI Jakarta, jajaran Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), serta para pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. (Red/Mh/Foto: Ist./PPID DKI Jakarta)

