Kabupaten/Kota

Puskesmas Sukmajaya Kota Depok Perkuat Kesehatan Pelajar

Depok – Puskesmas Sukmajaya, Kota Depok, memperkuat upaya menjaga kesehatan anak usia sekolah melalui pemberian obat cacing dan pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah di SDN Mekarjaya 10, Kecamatan Sukmajaya, Kamis (1/10/2026).

Sebanyak 409 pelajar mendapatkan obat cacing dalam kegiatan yang dilaksanakan secara berkala dua kali dalam setahun. Program tersebut menjadi salah satu langkah pencegahan kecacingan sekaligus mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak usia sekolah.

Penanggung Jawab (Pj) UKS Puskesmas Sukmajaya, Rini Aryani, mengatakan pemberian obat cacing dilakukan setelah pihaknya melakukan skrining awal terhadap kondisi kesehatan siswa. Bagi siswa yang memenuhi persyaratan, obat dikonsumsi secara bersamaan di lingkungan sekolah.

Menurut Rini, skrining dilakukan melalui Google Form untuk memastikan adanya persetujuan orang tua sekaligus mengetahui kondisi kesehatan siswa sebelum pemberian obat.

“Kami skrining terlebih dahulu melalui Google Form untuk memastikan apakah siswa mendapatkan izin dari orang tua atau siswa sedang mengalami gangguan kesehatan,” ujar Rini kepada berita.depok.go.id.

Bagi siswa yang sedang mengalami gangguan kesehatan, obat cacing tetap diberikan untuk dibawa pulang. Konsumsi obat dilakukan setelah kondisi siswa kembali pulih.

Pemberian obat cacing secara rutin diharapkan dapat membantu mencegah kecacingan pada anak sehingga kesehatan dan proses tumbuh kembang mereka tetap terjaga.

CKG Deteksi Kesehatan Sejak Dini

Selain pemberian obat cacing, Puskesmas Sukmajaya pada hari yang sama melaksanakan CKG Sekolah bagi 188 siswa kelas 1 hingga kelas 3 SDN Mekarjaya 10.

Program tersebut ditujukan untuk mengetahui kondisi kesehatan peserta didik sejak dini. Pemeriksaan memungkinkan petugas kesehatan menemukan gangguan kesehatan yang membutuhkan perhatian atau pemeriksaan lebih lanjut.

Pelaksanaan CKG diawali dengan koordinasi antara Puskesmas Sukmajaya dan pihak sekolah untuk menentukan jadwal pemeriksaan. Selanjutnya, sekolah menyampaikan informasi kepada orang tua agar melakukan skrining mandiri melalui aplikasi layanan kesehatan yang digunakan dalam pelaksanaan CKG.

Rini menjelaskan, skrining mencakup sejumlah aspek, antara lain kondisi kecemasan siswa, paparan asap rokok dari orang tua maupun lingkungan sekitar, serta gangguan kesehatan yang dialami dalam satu pekan terakhir.

Setelah skrining mandiri, petugas melakukan pemeriksaan kesehatan secara langsung. Pemeriksaan meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan gigi untuk mengetahui kondisi karies, pemeriksaan mata guna mendeteksi gangguan penglihatan, serta pemeriksaan telinga.

Hasil pemeriksaan kemudian disampaikan kepada siswa sebagai umpan balik. Apabila ditemukan kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, siswa diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan di Puskesmas Sukmajaya.

“Jika ada yang perlu ditindaklanjuti, kami arahkan untuk melakukan pemeriksaan kembali di Puskesmas,” jelas Rini.

Langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan CKG yang kini tidak hanya menekankan pemeriksaan awal, tetapi juga tindak lanjut terhadap hasil skrining. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa pada 2026 pelaksanaan CKG diperkuat dengan fokus pada penanganan hasil pemeriksaan agar masalah kesehatan yang ditemukan dapat segera ditangani.

Dalam petunjuk teknis yang berlaku, CKG Sekolah merupakan pemeriksaan kesehatan bagi anak usia sekolah untuk mengidentifikasi faktor risiko, mendeteksi kondisi pra-penyakit dan menemukan penyakit sejak dini. Pemeriksaan antara lain mencakup status gizi, kesehatan mata dan telinga, gigi, kesehatan jiwa, serta pemeriksaan lain sesuai kelompok usia.

Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa hingga 31 Juli 2026, CKG telah menjangkau 73,8 juta penduduk, termasuk 11,1 juta anak sekolah. Pemerintah menargetkan program tersebut terus diperluas dengan penekanan pada edukasi, pengobatan, pemantauan hingga rujukan bagi peserta yang membutuhkan.

Rini berharap pelaksanaan CKG di lingkungan sekolah dapat membantu pihak sekolah, orang tua dan tenaga kesehatan mengetahui kondisi anak lebih awal sehingga setiap masalah kesehatan yang ditemukan dapat segera memperoleh perhatian dan penanganan.

“Harapannya dengan adanya CKG sekolah ini, kami dapat melihat kondisi kesehatan anak sejak dini sekaligus mendorong adanya tindak lanjut apabila ditemukan masalah kesehatan,” tutupnya. (Red/Alz/Foto: Ist./Diskominfo)


Discover more from Restorasi News

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Restorasi News

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading