Ratusan Batu Akik Ramaikan Milad KOOD Depok
Depok – Gemerlap budaya modern dan perkembangan dunia digital tidak menyurutkan minat masyarakat terhadap seni dan warisan budaya lokal. Hal tersebut terlihat dalam Kompetisi Batu Akik Nusantara yang menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-26 Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD) Berbudaya di Mal Pesona Square, Depok.
Kompetisi tersebut tidak hanya menjadi ajang mempertemukan kolektor dan pecinta batu akik dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali beragam batu Nusantara beserta nilai sejarah dan budayanya.
Salah satu peserta sekaligus penjual batu akik, Samsul asal Jakarta, membawa lebih dari 100 batu untuk mengikuti kompetisi tersebut. Jumlah koleksinya bahkan diperkirakan bertambah karena masih ada rekannya yang akan membawa batu tambahan.
“Untuk sekarang ini aja udah seratus nih dan besok lebih ramai lagi karena ada teman satu lagi yang akan bawakan,” ujar Samsul kepada berita.depok.go.id, Sabtu (26/9/2026).
Samsul yang akrab disapa Engkong membawa berbagai jenis batu, di antaranya Nabire, Jadeite, Giok jenis Apple Green, Relaksa, hingga Maw Sit Sit.
Harga batu yang dibawanya juga bervariasi, mulai dari sekitar Rp1,5 juta hingga Rp70 juta, tergantung jenis, ukuran, bentuk, kualitas, serta tingkat pengerjaannya. Beberapa batu yang telah diolah menjadi cincin bahkan memiliki nilai jual hingga puluhan juta rupiah.
“Beda-beda, bisa dua jutaan, satu juta setengahan. Kalau udah jadi cincin begini nih enam juta, dua puluh juta, empat juta. Yang gedenya tujuh puluh juta tapi boleh nego karena nggak ada standar harga,” tuturnya.
Menurut Samsul, tingginya nilai sejumlah batu antara lain dipengaruhi oleh tingkat kesulitan mendapatkannya. Ia menyebut beberapa jenis batu tertentu hanya ditemukan di wilayah tertentu di Indonesia sehingga memiliki pasar tersendiri di kalangan kolektor.
“Di Indonesia itu kebanyakan cuma ada di Jawa dan Papua. Ini barang viral, barang susah didapat, jadi rebutan, dan harga pasarnya dia tuh tinggi,” jelasnya.
Merawat Tradisi Batu Nusantara
Peserta lainnya, Syarif dari Komunitas Purbalingga Batu Jasper, juga membawa koleksi dalam jumlah besar. Ia menyebut hampir seribu batu yang dibawanya memiliki potensi untuk mengikuti kontes, terutama batu cincin dan batu gambar.
Sebagian koleksi tersebut merupakan milik pribadi, sementara sejumlah batu lainnya memang disiapkan untuk dijual kepada pengunjung maupun kolektor.
“Kita khusus batu-batu yang memang ada potensi buat kontes kayak cincin dan batu gambar mungkin sekitar hampir seribuan lah. Ada beberapa batu kontes yang bukan koleksi pribadi akan dijual juga,” ujar Syarif.
Koleksi yang dibawa Syarif cukup beragam, antara lain Jasper Agate, Naga Sui, Pancawarna Kembang Klawing, Pasteling, Ocean Jasper, Garut, Dendrit Pacitan, Batik Pacitan, Picasso, serta berbagai jenis batu Nusantara lainnya.
Bagi Syarif, kompetisi tersebut memiliki arti lebih luas daripada sekadar mencari batu dengan kualitas atau grade tertentu. Pertemuan para kolektor juga menjadi kesempatan untuk menjaga keberadaan tradisi batu akik yang telah menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Indonesia.
“Akik dan beberapa aksesoris yang menggunakan batu termasuk bagian perjalanan sejarah kita. Kita rawat budaya kita sendiri,” katanya.
Menurutnya, kegiatan seperti Kompetisi Batu Akik Nusantara juga memberikan ruang bagi para kolektor untuk bertemu, bertukar pengalaman, mengenalkan koleksi, sekaligus memperluas jaringan komunitas.
Karena itu, Syarif berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun dengan cakupan yang semakin luas. Ia ingin Depok dapat menjadi salah satu tempat pertemuan para pecinta batu Nusantara.
“Kalau harapan sih mungkin setiap tahun bisa ada dan naik level ya sehingga pecinta batu Nusantara bisa singgah ke Depok di suatu lokasi yang kita bisa satu silaturahmi. Paling gitu sih harapan dari kami,” tandasnya.
Kompetisi Batu Akik Nusantara menjadi salah satu bagian dari rangkaian Milad ke-26 KOOD Berbudaya yang menghadirkan berbagai kegiatan seni, budaya, dan kemasyarakatan.
Selain kompetisi batu akik, rangkaian kegiatan tersebut diisi pertunjukan seni budaya, lomba pantun, lomba Cerita Bocah Depok, serta kegiatan donor darah. Kompetisi batu akik juga berkolaborasi dengan komunitas Akik Pirus Indonesia (API) untuk memperluas keterlibatan peserta.
Melalui kegiatan tersebut, KOOD Berbudaya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang perjumpaan bagi komunitas dan masyarakat untuk mengenal, merawat, serta memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal.
Di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi digital, keberadaan komunitas menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga agar tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Batu akik, dengan beragam jenis, karakter, dan sejarahnya, kembali menemukan ruang untuk dikenal oleh generasi dan masyarakat yang lebih luas. (Red/Gate 13/Foto: Ist./berita.depok.go.id)
Discover more from Restorasi News
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
