Edukasi

Menag Dorong Pesantren Bertaraf Internasional, Perkuat Bahasa Asing dan Kurikulum Global

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pengembangan pesantren bertaraf internasional perlu disertai dengan penguatan kemampuan bahasa asing serta penerapan kurikulum global agar para santri mampu bersaing di tingkat dunia.

Hal tersebut disampaikan Menag saat menerima Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath di Masjid Istiqlal pada Jumat (13/3).

Menurut Nasaruddin Umar, pesantren modern tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum keagamaan konvensional. Lembaga pendidikan Islam tersebut juga perlu mengintegrasikan penguasaan bahasa internasional dan sistem kurikulum global.

“Pesantren modern harus menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tidak cukup hanya bahasa Arab saja. Sekarang juga perlu didukung dengan kurikulum internasional seperti Cambridge,” ujar Menag.

Ia menjelaskan bahwa penguatan bahasa asing sebaiknya diberikan sejak dini kepada para santri. Bahkan, pembelajaran pelafalan bahasa Inggris dapat diberikan lebih awal sebelum santri mempelajari bahasa Arab secara lebih mendalam.

“Anak-anak yang baru masuk itu lidahnya masih lentur. Karena itu penguatan pelafalan bahasa Inggris perlu diberikan lebih dahulu agar mereka terbiasa dengan pengucapan yang benar,” jelasnya.

Menurut Menag, pendekatan tersebut akan membantu santri memiliki kemampuan komunikasi global tanpa meninggalkan identitas keislaman serta tradisi pesantren yang telah mengakar kuat di Indonesia.

Dengan model pendidikan seperti itu, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kompetensi global di bidang bahasa, pengetahuan, serta jejaring internasional.

“Pesantren ke depan harus tampil sebagai lembaga pendidikan yang kuat secara keilmuan Islam sekaligus terbuka terhadap perkembangan dunia,” pungkasnya.

Rencana Pesantren Internasional di Maluku

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath menyampaikan rencana pembangunan pesantren bertaraf internasional di wilayah Pulau Ambon, Maluku.

Menurutnya, pembangunan lembaga pendidikan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan di Maluku dengan tetap menjaga keseimbangan pembangunan antarumat beragama.

“Di Maluku, setiap pembangunan, baik di sektor pendidikan, kesenian, maupun bidang lainnya, harus menjaga keseimbangan. Kalau kita membangun pendidikan untuk umat Islam, maka pendidikan untuk non-Islam juga harus diperhatikan,” ujar Vanath.

Ia menjelaskan bahwa lembaga pendidikan tersebut nantinya akan dikelola melalui sebuah yayasan yang tidak hanya mengembangkan pendidikan bagi umat Islam, tetapi juga memperhatikan pengembangan pendidikan bagi umat Kristen.

“Karena itu kami akan membangun dalam satu yayasan yang tidak hanya membangun pendidikan untuk Muslim, tetapi juga untuk Kristen. Prinsip keseimbangan ini memang menjadi rumusan kepemimpinan di Maluku,” jelasnya.

Orkestra Lintas Agama untuk Generasi Muda

Selain rencana pembangunan pesantren internasional, Pemerintah Provinsi Maluku juga berencana membentuk grup orkestra lintas agama yang melibatkan generasi muda dari berbagai lembaga pendidikan.

Menurut Vanath, gagasan tersebut terinspirasi dari pengalaman Menag Nasaruddin Umar yang memiliki pesantren di Bone, Sulawesi Selatan yang mengembangkan grup musik orkestra.

Ia menilai Maluku memiliki potensi besar dalam pengembangan musik religi, meskipun saat ini minat generasi muda terhadap lagu-lagu kasidah mulai menurun.

“Maluku sebenarnya punya potensi besar di bidang musik religi. Bahkan kemarin Maluku meraih juara umum kedua pada lomba kasidah nasional. Namun tantangannya adalah minat generasi muda terhadap lagu-lagu kasidah mulai menurun,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya berencana memadukan musik kasidah dengan aransemen modern melalui pembentukan orkestra yang melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.

“Kami ingin mendorong sedikit modernisasi agar generasi muda tertarik. Nantinya kami akan merekrut anggota orkestra dari Madrasah Tsanawiyah kelas 3, Madrasah Aliyah kelas 1, serta siswa SMA dan SMK kelas 1,” jelasnya.

Menariknya, orkestra tersebut akan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang agama sebagai bentuk penguatan nilai toleransi dan kebersamaan.

“Pesertanya nanti kolaborasi Islam dan non-Islam. Karena prinsip keseimbangan itu kami jaga di setiap program pembangunan,” katanya.

Persiapan Lahan dan Infrastruktur

Dalam pertemuan tersebut, Vanath juga melaporkan perkembangan rencana pembangunan pesantren internasional yang direncanakan berdiri di Pulau Ambon.

Ia menyampaikan bahwa Menag Nasaruddin Umar memberikan arahan agar pembangunan lembaga pendidikan tersebut didukung dengan ketersediaan lahan yang memadai.

“Tadi beliau memberi pesan agar kami menyiapkan lahan minimal 10 hektare. Rencananya lokasi yang kami siapkan berada di Pulau Ambon, namun berada di kawasan hutan sehingga membutuhkan akses jalan,” jelasnya.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku berencana berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta pihak terkait lainnya agar pembangunan akses jalan menuju lokasi pesantren dapat masuk dalam rencana pembangunan infrastruktur.

“Kami juga berharap dukungan dari Pak Menteri agar rencana ini dapat disampaikan kepada Kementerian PUPR sehingga akses jalan menuju lokasi pesantren dapat masuk dalam perencanaan pembangunan,” tandas Vanath.

Rencana pembangunan pesantren internasional dan pembentukan orkestra lintas agama tersebut diharapkan dapat menjadi ruang penguatan pendidikan, seni, sekaligus memperkokoh nilai kerukunan antarumat beragama di Maluku. (Red/Mh/Foto: Ist./Kemenag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *