Menkeu Purbaya: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Termasuk Tertinggi di ASEAN dan G20
Jakarta – Di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang tetap kuat dan tangguh.
Pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di kawasan ASEAN maupun kelompok negara G20.
Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers APBN Kita Edisi Juni 2026 yang digelar di Aula Djuanda Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6).
Menurut Menkeu, capaian pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh sejumlah faktor utama, terutama kuatnya konsumsi rumah tangga, meningkatnya investasi, serta percepatan realisasi belanja pemerintah yang mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, stabilitas ekonomi domestik juga tetap terjaga melalui pengendalian inflasi yang berada pada level 3,08 persen. Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap terpeliharanya daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi di berbagai sektor.
“Perekonomian kita hingga Mei 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang solid, didukung permintaan domestik yang kuat, inflasi yang terkendali dan kebijakan fiskal yang responsif, jadi fiskalnya betul-betul terjaga,” kata Menkeu.
Ia menjelaskan, hingga akhir Mei 2026 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus dioptimalkan untuk menjalankan peran strategisnya, baik sebagai instrumen peredam gejolak ekonomi global (shock absorber) maupun sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Menkeu menyebutkan bahwa pendapatan negara menunjukkan kinerja yang kuat, sementara belanja negara tetap dijalankan secara ekspansif untuk melindungi masyarakat serta mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor produktif.
Dalam kesempatan tersebut, Menkeu juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tidak dicapai dengan mengorbankan kesehatan fiskal negara. Sebaliknya, pemerintah berupaya memastikan setiap rupiah belanja negara memberikan dampak yang optimal terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi cepat bukan karena kita mengorbankan fiskal. Tapi karena kita di bawah pimpinan Bapak Presiden bisa memastikan seluruh belanja fiskal dijalankan dengan efisien dan efektif, sehingga dengan uang yang sama pertumbuhan ekonomi kita akan lebih cepat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menkeu memberikan keyakinan kepada pelaku usaha, investor, dan pasar keuangan bahwa pemerintah terus menjalankan kebijakan fiskal secara hati-hati, terukur, dan berkelanjutan. Penataan anggaran dilakukan secara matang dengan mempertimbangkan berbagai risiko dan tantangan ekonomi yang berkembang di tingkat global maupun domestik.
Ia menegaskan, jajaran Kementerian Keuangan berkomitmen menjaga stabilitas keuangan negara sekaligus memastikan APBN tetap mampu mendukung pembangunan, menjaga kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026 menjadi sinyal positif bahwa perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang kuat di tengah tantangan global.
Dengan dukungan konsumsi domestik yang solid, investasi yang terus meningkat, serta pengelolaan fiskal yang disiplin dan responsif, pemerintah optimistis momentum pertumbuhan dapat terus terjaga hingga akhir tahun. (Red/Mh/Foto: Ist./KLI)

