Opini

Sunda dan Bali, Merawat Persaudaraan Budaya

Oleh Nanang Lecir*

Di tengah derasnya perubahan zaman, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Gubernur Bali Wayan Koster menunjukkan bahwa adat dan budaya leluhur tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan kebangsaan.

Busana adat yang dikenakan bukan sekadar pakaian. Di balik simbol dan tradisi itu terdapat pesan tentang identitas, penghormatan kepada leluhur, serta tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pertemuan budaya Sunda dan Bali bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Jejak sejarahnya dapat ditelusuri antara lain di Pura Negara Gambur Anglayang, Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Pura yang juga dikenal sebagai Pura Pancasila tersebut menyimpan narasi keberagaman yang kuat. Sejumlah pelinggih di dalamnya merepresentasikan unsur Sunda, Melayu, Tionghoa/Buddha, Hindu, hingga Islam. Kajian sejarah dan budaya mengenai pura tersebut juga menunjukkan adanya keterkaitan dengan kawasan perdagangan dan perjumpaan berbagai kelompok masyarakat pada masa lalu.

Salah satu yang menarik adalah keberadaan pelinggih Ratu Bagus Sundawan yang dikaitkan dengan unsur masyarakat Sunda. Jejak tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antarmasyarakat di Nusantara telah berlangsung jauh sebelum batas-batas administratif modern terbentuk.

Karena itu, ketika hari ini budaya Sunda dan Bali kembali dipertemukan melalui figur-figur pemimpin daerah seperti Dedi Mulyadi dan Wayan Koster, yang hadir sesungguhnya bukan sekadar simbol pertemuan dua tradisi.

Ada pesan kebangsaan yang jauh lebih besar.
Dua budaya, dua pulau, satu tanah air.
Dua tradisi, satu semangat.
Berbeda akar, satu jiwa Indonesia.

Kebudayaan pada hakikatnya bukan tembok yang memisahkan manusia berdasarkan asal-usul. Sebaliknya, kebudayaan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan manusia melalui nilai, sejarah, tradisi, dan penghormatan terhadap sesama.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Wayan Koster yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya menjaga budaya Bali di tengah modernisasi. Bahkan dalam pembangunan Bali, ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Menurutnya, modernisasi justru harus memperkuat nilai, identitas, tradisi, dan karakter masyarakat.

Di sisi lain, upaya menghidupkan kembali kebanggaan terhadap budaya Sunda juga menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak harus berhadapan dengan kemajuan zaman. Budaya dapat menjadi sumber kekuatan sosial sekaligus identitas yang memperkaya kehidupan Indonesia.

Dari perspektif spiritual dan kebudayaan, keberagaman seharusnya tidak dipandang sebagai alasan untuk saling menjauh. Perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, menghormati, menguatkan, dan bekerja bersama.

Pura Negara Gambur Anglayang memberikan pelajaran penting mengenai hal tersebut. Sejarah dan simbol-simbol yang hidup di dalamnya memperlihatkan bahwa keberagaman telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Bali Utara. Pemerintah Kabupaten Buleleng bahkan menyebut situs tersebut sebagai salah satu ruang yang memperlihatkan kehidupan multikultural serta perjumpaan berbagai suku, agama, dan ras dalam sejarah kawasan tersebut.

Pelajaran itu sangat relevan bagi Indonesia hari ini.

Merawat budaya bukan berarti kembali ke masa lalu. Merawat budaya berarti membawa nilai-nilai terbaik dari masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan.

Menghormati leluhur bukan berarti menutup diri terhadap perubahan. Justru penghormatan kepada leluhur mengajarkan kita untuk memahami dari mana kita berasal agar tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan zaman.

Dan menyatukan keberagaman bukan berarti menghapus identitas masing-masing. Sebaliknya, persatuan Indonesia akan semakin kuat ketika setiap kebudayaan dapat tumbuh, dihormati, dan ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan bangsa.

Dari Pasundan hingga Bali, dari tradisi Sunda hingga adat Bali, kita menemukan satu pesan yang sama: Indonesia dibangun bukan dengan menyeragamkan perbedaan, melainkan dengan menyatukan keberagaman dalam semangat kebangsaan.

Adat dijaga.
Leluhur dihormati.
Persaudaraan disatukan.
Indonesia dimuliakan.

Pada akhirnya, kebudayaan bukan sekadar warisan yang disimpan di museum, tetapi nilai yang harus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari. Ia menjadi jembatan antargenerasi, pengikat persaudaraan, sekaligus fondasi moral untuk menghadapi masa depan.

Sunda dan Bali boleh memiliki sejarah, bahasa, adat, seni, serta tradisi yang berbeda. Namun keduanya bertemu dalam rumah besar yang sama: Indonesia.

Semoga persaudaraan budaya dari Pasundan hingga Bali terus tumbuh menjadi energi positif bagi persatuan bangsa.

Rahayu Ibukota.
Rahayu Nusantara.
Rahayu Dunia!

*Penulis adalah Pemerhati Seni dan Budaya.


Discover more from Restorasi News

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Restorasi News

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading